SamawaFamily.com

Perjuangan Sang Ustadz di Kota Bandung

22 Jul

Cerita ini merupakan kisah dari seorang ustadz bernama Muhammad Asri, M.A jurusan Pendidikan Agama Islam di UIN Imam Bonjol Padang. Beliau berasal dari Talu kabupaten Pasaman. Saat ini ini beliau bertugas sebagai pembina asrama di SMA INS Kayutanam dan menjadi ketua dari INS Care SMA INS Kayutanam. Beliau saat ini sedang magang di Pelita Desa, Ciseeng. Beliau berangkat ke kota Bogor bersama tim INS Care untuk menjawab tantangan dari pelita desa, selain itu beliau memiliki visi dan misi, yaitu belajar  dari negeri orang untuk memperoleh cerita, ide, pengalaman serta menyusun program kerja demi kemajuan dan bangkitnya SMA INS Kayutanam.

Perjuangan tersebut dimulai pada hari rabu, 27 Juni 2018 sampai sabtu, 30 Juni 2018, sang ustadz mengatakan bahwa pada  hari kamis dini hari beliau beserta rombongan telah sampai di terminal Luwi Panjang Bandung, dilanjutkan dengan mencari tempat istirahat dari satu masjid ke masjid lain namun masjid pada pagi itu masih terkunci rapat, beliau terus menelusuri kota Bandung dengan berjalan kaki hingga ia sampai di Masjid Darussalam yang pintu mesjidnya sudah terbuka . Disanalah beliau dan rombongan beristirahat untuk sholat subuh dan melepas lelah.

Setelah sholat subuh beliau dengan salah satu anak didiknya yang bernama Muhammad Siddiq mencari pengurus masjid untuk meminta izin agar bisa mempergunakan masjid sebagai tempat istirahat beliau beserta tim INS Care, tetapi pengurus masjid meminta untuk mengumpulkan kartu identitas seluruh anggota tim, dan diminta untuk mencari masjid al-Huda, akan tetapi di mesjid Al-Huda beliau dan rombongan tidak diperkenankan untuk tinggal dan beristirahat. Dengan kesungguhan dan kesabaran beliau bersama rombongan yang solid, akhirnya Allah mempertemukan mereka dengan masjid Nurul Iman yang lokasinya sangat jauh dari masjid sebelumnya, dan pengurus masjid tersebut memperbolehkan beliau dan rombongan untuk tinggal dan istirahat disana.

Di kota Bandung beliau merasakan kelaparan, kehausan dan kelelahan, tidur di jalanan, menginap di masjid tanpa selimut, sehingga untuk menghilangkan rasa dingin yang luar biasa beliau tidak bisa tidur karena menahan udara yang sangat dingin di kota Bandung. Beliau berkata pada dirinya sendiri bahwa di kota Bandung beliau harus bisa bertahan, harus berjuang, bekerja keras, bekerja apa saja yang penting halal untuk mendapatkan uang berapa saja untuk kebutuhan hidup sehari-hari, untuk biaya tiket masuk ke farm house, floating market dan ongkos tranfortasi menuju kota Bogor.

Matahari sudah menampakkan dirinya menandakan pagipun telah datang, malampun berganti siang. Baru saja sang pagi menyingsing, beliau dan tim INS care telah bergerak dan bertebaran di kota Bandung untuk mencari pekerjaan walaupun harus menahan rasa lapar karena belum sarapan pagi. “Saya pada hari itu sampai menjelang zuhur tidak dapat pekerjaan apapun, hanya dapat tolakan dan sampai dibilang teroris,” ungkap sang ustadz dengan rawut wajah yang sangat sedih.

Sang ustadz hampir putus asa namun tetap berjuang, alhasil pada pukul 11:30 beliau bisa bekerja di foto copy hingga pukul 15:30 dengan pendapatan 160.000,  karena begitu berambisinya sang ustadz tidak ada makan seharian. Pada malam harinya, beliau baru bisa menyuapkan sesuap nasi ke dalam sumatera tengahnya yang sejak tadi bertahan untuk menahan rasa lapar. Setelah makan, beliau melanjutkan perjalanan ke floting market namun malam itu hanya samapai ke penginapan homestay Setiabudi, beliau beserta rombongan dapat beristirahat disana dan sarapan pagi dengan syarat pagi pukul 04:00 dini hari, harus bekerja membersihkan seluruh area homestay.

Setelah seluruh pekerjaan selesai di homestay Setiabudi,  beliau dan rombongan berjalan kaki hingga sampai Farmhouse. Tiba-tiba beliau dan tim INS Care mempunyai ide untuk berjualan salak di sekitar Farmhouse untuk bisa menambah ongkos pulang ke kota Bogor, mereka bisa mengumpulkan uang untuk masuk Farmhouse dan bertemu tim pelita desa di sana, beliau menelusuri Farmhouse sambil melihat-melihat, ide apa yang bisa beliau bawa pulang untuk INS Kayutanam.

Tim Pelita Desa mengajak beliau dan tim INS Care untuk dinner ke restoran yang sangat mahal, setalah selesai makan tim pelita desa meminta INS Care untuk membayar sendiri makannya yang berkisar delapan ratus ribu rupiah, padahal uang sudah tidak ada, bendara timpun mulai meneteskan air matanya. “Saya dan teman lainnya sangat khawatir pada waktu itu, namun akhirnya tim pelita desa membayarkannya”, ujar sang ustadz sambil menarik nafas lega.

Cerita ini terus berlanjut dan perjuangan belum padam, malam itu beliau diajak menuju Floting market, lagi-lagi tim INS Care ditinggalkan tanpa ada uang sama sekali oleh pelita desa, akhirnya beliau berjalan kaki menelusuri jalan raya dan sampai ke tempat pusat penjualan susu lembang, beliau beserta tim meminta izin istirahat di sana, alhasil setelah melalui beberapa prosedur beliau dan tim mendapatkan izin untuk beristirahat di musholla tersebut.

Uang yang tersisa dua puluh rupiah, sang ustadz memutar kincir-kincir otaknya untuk dapat mengumpulkan ongkos ke Bogor. Dengan tekadnya beliau dengan beberapa anak didiknya menjual gorengan di malam itu, hingaa beliau bisa mengumpulkan uang sebanyak lima puluh delapan ribu rupiah. Pagi hari sabtu, beliau dan tim kembali berjualan, ada yang jualan air mineral, ada yang jualan tempe dan ada yang jualan pisang beserta salak sambil menelusuri jalan menuju kota Bogor.

Titik peluh membanjiri seluruh bajunya hari itu karena sudah mulai kehabisan tenaga sehingga ada yang terkapar ditrotoar jalan, di pos kamling dan di depan halaman rumah warga. Melihat keaadaan itu beliau dan tim INS Care mengambil keputusan untuk pulang ke kota Bogor dengan uang seadanya. Tepat tanggal 1 juli dini hari sang ustadz dan rombongan tiba di markasnya pelita desa kota Bogor.

Oleh : Vita (Guru SMA INS Kayutanam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *