SamawaFamily.com

Menjadi Orangtua, Belajarnya Seumur Hidup!

Menjadi Orangtua, Belajarnya Seumur Hidup!
23 Jul

Membaca judul di atas, sebaiknya jangan sedikit pun berharap bahwa tulisan ini ditulis oleh seorang Dokter, Psikolog, Pendidik, atau siapapun juga yang sejenisnya. Tulisan ini hanya sharing sekadarnya dari seorang Ibu yang masih perlu, ingin, dan harus banyak belajar untuk menjadi orangtua yang baik. Menjadi orangtua itu belajarnya seumur hidup, tidak selesai-selesai, dan dari masa ke masa kita akan terkaget-kaget, betapa lingkungan sekitar yang mungkin sulit untuk kita kontrol itu, sangat mempengaruhi perkembangan anak-anak kita. Maka, belajar untuk terus menjadi orangtua yang sesuai dengan harapan Allah SWT dan sesuai dengan harapan anak-anak, adalah hal yang harus terus dan terus dilakukan.

Kalau menurut saya, sejauh yang saya pelajari, ada banyak hal yang bisa dilakukan dalam pembelajaran menjadi orangtua yang baik. Salah satunya, dengan mengkolaborasikan 3 konsep kecerdasan, yaitu “IQ”, “EI”, dan SI.

Apa sih IQ, EI dan SI itu?

1. IQ, Intelligence Quotient, biasanya dikenal dengan nilai kecerdasan seseorang.

Dalam konteks “belajar menjadi orangtua”, IQ disini artinya orangtua sebaiknya bersedia untuk tetap banyak belajar dari berbagai sumber yang bisa di percaya tentang bagaimana cara menjadi orangtua yang baik dan cerdas, sesuai dengan yang Allah perintahkan. Misalnya, dari pengalaman orangtua kita terdahulu, pengalaman dari orang lain, termasuk pengalaman kita saat menjadi seorang anak, ataupun dengan banyak membaca buku atau artikel-artikel tentang “Parenting”.

Bagi umat muslim, sudah tentu Al Quran dan Al Hadist lah yang merupakan sumber terpercaya. Jangan lupa, dalam mempelajari Al Quran dan Al Hadist itu, harus didampingi oleh seseorang/guru yang memiliki pemahaman yang baik tentang Islam. Adanya kemajuan teknologi, seperti internet dan media sosial,  juga semakin memudahkan kita dalam mencari semua yang kita butuhkan untuk mencerdaskan diri.

2. EI, Emotional Intelligence

Pada intinya Emotional Intelligence adalah kemampuan kita untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengontrol emosi diri sendiri, orang sekitar, dan kelompok. Orangtua dan anak memiliki hubungan yang unik dimana keduanya bisa saling memicu kemarahan, bahkan untuk hal yang sangat sepele. Persoalannya, jika kita ingin mendidik anak-anak kita, perlukah kita marah-marah padanya walaupun berbuat salah?

Ingatlah, hubungan orangtua dengan anak-anak yang terbaik adalah “anak-anak menganggap orangtuanya sebagai sahabat karib dengan penuh penghormatan tanpa rasa segan untuk menceritakan segala masalahnya”. Sehingga, kita sebagai orangtua sebaiknya lebih berusaha untuk lebih bisa mengendalikan diri, salah satunya dengan memahami bahwa kemarahan orangtua yang tidak terkendali bisa “melukai” anak-anak secara psikologis.
Banyak sekali tips dan trik tentang adab marah, juga tentang cara memarahi anak dengan baik dan bijak yang bisa kita temukan di internet.

3. SI, Spiritual Intelligence

Kecerdasan spiritual yang dikonsepin pertama kalinya oleh psikolog yang bernama Danah Zohar (1997), aslinya sih dibuat Zohar untuk mengukur kemampuan seseorang dalam memaknai kehidupannya. Jadi, ngga ada hubungannya dengan agama ataupun kerohanian dalam konsep awam.
Tapi, untuk saya justru sebaliknya. Bagi saya, konsep kecerdasan spiritual ini adalah tentang bagaimana kita mempelajari rumus tawakal, yaitu :

T = U + D

* U = usaha (belajar konsep IQ+EI+SI)
* D = Doa

Berdoa, memohon pertolongan Allah agar selalu ditunjukkan jalan terbaik yang di ridhoiNya menuju tujuan kita, yaitu menjadi orangtua yang soleh/soleha yang bisa mendidik anak-anak kita menjadi anak-anak yang soleh/soleha. Semoga Bermanfaat

Oleh : Gina (Anggota Samawa Family)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *